Feedback Form
Azwar weBlog versi Dynamic View (chose your like):

Flipcard | Mosaic | Magazine | Sidebar | Snapshot | Timeslide

Azwar weBlog

12 September 2005

Mari kenali Allah

Mari mengenal Tuhan
Tuhan kita ialah Allah
Nama-Nya yang paling agung yang dikatakan lafzul jalalah
Dia adalah Zat yang Maha Suci lagi Maha Tinggi
Suci daripada sebarang penyerupaan dengan mahluknya,
didalam semua hal
Karena itulah Dia tidak dapat hendak dibayangkan,
Kalau dibayangkan, satu pendustaan yang maha besar

Wujud nya sediakala ada, tidak ada permulaan, tidak ada
kesudahan
Karena Dia bukan jenis ciptaan, bahkan Pencipta Seluruh
Alam
Menjadi pengatur, pendidik, penyelamat
Takkan Pencipta dengan yang dicipta ada persamaannya
Zat-Nya Maha Esa, satu atau tunggal
Tapi Esa-Nya tidak boleh dibelah bagi
Yang boleh dibelah bagi itu adalah benda atau barang
ciptaan, atau sesuatu yang terkena cipta atau diwujudkan

Maha Suci dan Maha Tinggi Allah daripada perlu kepada
tempat
Tidak mengambil ruang
Tidak ada didalam pihak atau diluar pihak
Karena di luar pihak juga adalah pihak
Tidak terlibat dengan masa
Tidak terlibat dengan musim yang empat
Karena semuanya itu adalah mahluk atau ciptaanNya

Allah tidak berhajat kepada ciptaanNya
Tapi mahluk-Nya berhajat kepada Allah
Kudrat-Nya adalah mutlak dan tidak terbatas
Karena kudrat-Nya bukan dari tenaga
Ia dari Zat-Nya yang Maha Kuasa dan Maha Daya dan Upaya
Iradah-Nya atau kehendaknya bukan daripada dorongan
nafsu-Nya



Allah tidak ada nafsu seperti hewan atau manusia
Setiap yang terjadi dan yang akan terjadi kemudian adalah
dengan kehendakNya
Ciptaan-Nya, kecil dan besar sama saja
Dia kata “jadi”, jadilah benda itu
Dia mengatur, mengawal dan menjaga, bukan hasil berfikir
fikir dan meneliti
Karena berfikir dan meneliti adalah dari akal
Dia memang sudah sedia tahu dan bijaksana
Allah tidak ada akal seperti malaikat dan manusia

Setiap yang dicipta-Nya tidak ada yang sia sia
Sekalipun debu yang halus ada hikmahnya
Baik yang dapat kita fikirkan maupun yang tersembunyi
hikmahnya
IlmuNya maha luas tidak terbatas dan tidak berkesudahan
Mengetahui yang ada dahulu, yang sedang ada, maupun yang
akan ada
Sekalipun yang tiada, Allah tahu
Tiada sebesar debu pun yang dilupakan

Hidup-Nya tidak ada berkesudahan, karena Dia hidup bukan
dengan nyawa
Dan tidak ada yang menamatkan karena Dia adalah Allah,
tiada Tuhan selainNya
Artinya tiada siapa yang berkuasa ke atas Zat-Nya yang
hendak mematikan

Dia mendengar bukan dengan telinga,
Tapi dari zat nya yang bersifat mendengar
Dia melihat bukan dengan mata,
Tapi dari zat-Nya yang bersifat melihat
Sifat mendengar dan melihat-Nya tidak berperingkat
peringkat
Jauh dan dekat sama saja

Allah bercakap atau mempunyai bahasa yang tersendiri
Dan tiada siapa yang mengetahui sekalipun para malaikat
Bahasa-Nya tiada yang dahulu dan tiada yang kemudian,
Tiada berlafaz dan tiada berhuruf , tiada perkataan
Tiada bunyi dan suara, tiada koma dan titik
Tiada permulaan dan tiada berkesudahan
Tiada tanda tanya dan tiada tanda seru
Al Quran adalah bahasa malaikat dan bahasa rasul
Maksud dan mafhum daripada bahasa Allah
Jadi, bahasa pun juga tiada penyerupaan
Maha Suci Allah

Dia menghukum dengan keadilan Nya
Dia memberi nikmat dengan rahmat-Nya
Kasih sayang kepada hamba hamba Nya mengatasi segala sifat
sifat-Nya yang lain

Nikmat dan rahmat-Nya terus mengalir tidak pernah henti
henti sekalipun sedetik atau sekedip mata
Karena itulah nikmat-Nya tidak mampu untuk dihitung
Nikmat nafas naik turun pun kita tidak dapat menghitungnya

Betapalah nikmat nikmat yang lain, lagilah terlalu
banyaknya
Dia adalah pemberi rizki, pengatur, penjaga, penyelamat,
pengawal
Dan menentukan segala nasib mahlukNya
Kalau satu detik pun kita terlepas dari Allah, pasti
binasa

Aduh, siapa Allah ??
Dia adalah Maha Besar, Maha Agung, Maha Berkuasa, Maha
Perkasa
Maha Gagah, Maha Hebat, Maha Pengasih
Kasih Nya kepada hamba hamba Nya
Lebih kasih daripada seorang ibu kepada anak anaknya
Patut kita jatuh hati kepadaNya
Bahkan cinta kepadaNya
Petut kita membesarkan, memuja, mengagungkan, menyanjung,
dan menyembah dan menakutiNya
Dia adalah idola daripada segala idola yang ada di dunia
Kita sangat perlu kepada Allah
Karena itulah kita mesti memperjuangkannya
Hingga seluruh manusia mengenalNya, mencintaiNya dan
menyembahNya

Baca selengkapnya...

Mungkin Sekali Saya Sendiri Juga Maling

Oleh Taufiq Ismail

Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk
dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia.
Penganggur 40 juta orang,
anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid,
pecandu narkoba 6 juta anak muda,
pengungsi perang saudara 1 juta orang,
VCD koitus beredar 20 juta keping,
kriminalitas merebat di setiap tikungan jalan
dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya.

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol di ruang tamu Kantor
Pegadaian Jagat Raya,
dan di punggung kita dicap sablon besar-besar Tahanan IMF dan Penunggak
Bank Dunia.
Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu, menjual tenaga dengan upah paling
murah sejagat raya.

Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan
dan angan-angan di pelabuhan dan bandara,
ketika pulang lihat mereka berdukacita karena majikan mungkir tidak
membayar gaji,
banyak yang disiksa malah diperkosa dan pada jam pertama mendarat di
negeri sendiri diperas pula.

Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.
Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi-kolonialis banyak
bangsa.
Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luarbiasa dan banyak senyumnya.
Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin
mudah dipatahkannya.



Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.
Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan
penelitian.
Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya
penuh janji, adalah industri korupsi.

Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.

Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret,
jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras,
yang di atas tukang tindas.
Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung.

Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.
Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu'.

Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.
Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.
Begitu khusyu'nya, engkau kira mereka beribadah.
Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?

Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya,
membentang dari depan sampai ke belakang,
melimpah dari atas sampai ke bawah,
tambah merambah panjang deretan saf jamaah.
Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.

Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?
Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi
dari atas sampai ke bawah?
Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang
senjata dan yang memerintah.

Bagaimana ini?

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
Operation),
tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan
sekolahan.

Kaki kini jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana ke mari,
kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran,
otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan
Tuhan.

Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?
Jamaahnya kukuh seperti diding keraton, tak mempan dihantam gempa dan
banjir bandang,
malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang,
penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian.

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan
ribu,
barangkali sekitar satu juta orang ini, cukup jadi sebuah negara mini,
meliputi mereka yang pegang kendali perintah, eksekutif, legislatif,
yudikatif dan dunia bisnis,
yang pegang pestol dan mengendalikan meriam, yang berjas dan berdasi.

Bagaimana caranya?

Mau diperiksa dan diusut secara hukum?
Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?
Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?
Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan?
Percuma
Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan Insya Allah tak
akan terselesaikan.

Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?

Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar
bersedia mengembalikan jarahan
yang berpuluh tahun dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.
Kita doakan Allah membuka hati mereka,
terutama karena terbanyak dari mereka orang yang shalat juga,
orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga.
Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka.

Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita,
ada hubungan darah atau teman sekolah,
maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati menegurnya.

Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,
orang seagama atau sedaerah, kita cenderung menutup-nutupi fakta,
lalu dimakruh-makruhkan dan diam-diam berharap semoga kita
mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan.

Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.
Dan lihat kini jendela dan pintu rumah Indonesia dimakan rayap.
Kayu kosen, tiang, kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.
Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap.
Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia
dijarah anai-anai.
Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai
habis dikunyah-kunyah rayap.
Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna.

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.
"Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!" teriak mereka.
"Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!" bantahku.

Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam.
Aku melarikan diri kencang-kencang.
Mereka mengejarkan lebih kenjang lagi.
Mereka menangkapku.
"Ambil bensin!" teriak seseorang.
"Bakar Rayap," teriak mereka bersama.
Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.
Seseorang memantik korek api.
Aku dibakar.
Bau kawanan rayap hangus.
Membubung Ke udara.

Baca selengkapnya...

Facebook Follower

Terima Kasih

Blogger
The Professional Template Designed by Ourblogtemplates.com
Banner Header Image by Ebsoft
E-mail me at:
azwaramril@gmail.com
Azwar Amril - Find me on Bloggers.com
Thank you for visiting my weBlog, See u soon
Copyright © 2005-2013 Azwar weBlog

Pesan Anda


  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP